01 April 2010

Sekilas Tentang Monas

Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Monas merupakan Tugu setinggi 132 meter yang dibangun untuk mengenang perjuangan sekaligus perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945. Monas ini mulai dibangun pada masa pemerintahahn Ir. Soekarno selaku presiden pertama Indonesia. Monas mulai dibangun pada tahun 1959 ditandai dengan pemancangan pertama oleh Presiden Soekarno, tepatnya pada bulan Agustus dan selesai diresmikan pada 17 Agustus 1961 oleh Presiden Soekarno. Resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Selaku arsitek yang merancang Monas adalah Soedarsono dan Frederich Silaban serta Ir. Rooseno selaku konsultan pembangunan.



Filosofi dari bentuk tugu Monas yang menjulang tinggi adalah semangat juang bangsa Indonesia yang mencapai puncaknya yang dilambangkan pada tugu dan api abadi di puncak Monas. Selain itu api abadi yang tak kunujung padam melambangkan perjuangan bangsa Indonesia yang takkan pernah surut sepanjang masa. Lidah api yang terdapat di ujung tugu ini dilapisi oleh emas seberat 35 kg dan terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton.



Tugu melambangkan lingga, alu atau antan, yaitu penumbuk beras. Pelataran cawan melambangkan yoni dan juga lumpang – wadah untuk beras yang sudah ditumbuk oleh lingga – dalam bentuk raksasa. Saat ini memang kedua alat tersebut sudah sangat jarang ditemukan di kota besar seperti Jakarta, tapi masih bisa ditemui di desa-desa. Dulunya, kedua alat rumah tangga tersebut bisa ditemukan di hampir setiap rumah tangga pribumi Indonesia. Yoni dan lingga melambangkan negatif dan positif seperti halnya siang dan malam, lelaki dan perempuan, air dan api, bumi dan langit, lambang dari alam yang abadi.



Kemudian pelataran cawan pada ujung tugu memiliki luas 11x11 meter dan dapat menampung sebanyak 50 penunjung. Panorama yang ditawarkan pelataran puncak tugu monas berupa pemandangan ke seluruh oenjuru kota Jakarta. Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.

Monas menyimpan pula angka keramat bangsa Indonesia, 17 – 8 – 45. Pelataran cawan berbentuk bujur sangkar berukuran 45 m x 45 m, tingginya 17 meter, dan ruang Museum Sejarah Nasional (di dalam) setinggi 8 meter.



Monas memiliki beberapa bagian di dalamnya. Museum Sejarah Nasional terdapat di bawah monumen menempati ruangan berukuran 80 m x 80 m berlapiskan batu pualam dengan tinggi 8 meter. Di sekeliling dindingnya terdapat 48 jendela kaca yang menggambarkan diorama perkembangan sejarah nasional Indonesia.



Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Monas terletak di Jakarta Pusat.



Data-data Monas:
Nama resmi: Tugu Peringatan Nasional
Letak: Lapangan Monas, Jakarta Pusat
Luas area taman: 80 hektar
Tinggi tugu: 450 ft (137 m)
Arsitek: Soedarsono dan Frederich Silaban
Konsultan: Ir. Rooseno
Mulai dibangun: Agustus 1959
Diresmikan: 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno
Resmi dibuka untuk umum: 12 Juli 1975.
Sebutan umum: Taman Monas
Sebutan lama: Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas.
Landasan dasar: setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang
Pelataran puncak: luas 11x11 m, dapat menampung sebanyak 50 pengunjung
Puncak: cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton, berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan dan dilapisi emas 35kg
Waktu kunjung: Senin - Sabtu, pukul 9.00 - 16.00 WIB

Sumber:
dari berbagai sumber

Reactions:

0 comments:

Post a Comment