Showing posts with label curhatku. Show all posts
Showing posts with label curhatku. Show all posts

01 June 2009

Jalan raya, watak kita sekarang...

Sebuah percakapan antara pengguna jalan raya.

Supir angkot: Minal, minal, minal (maksudnya terminal). (Ia pun menghentikan mobilnya yang penuh asap hitam di pinggir jalan yang bertandakan letter S)

Pengemudi dibelakangnya: Woy goblok!!, jangan berenti mendadak!

Supir angkot: Lu yang bego! Udah tau gua nyari duit!

Pengemudi: Lu yang bego! Nyari duit jangan rugiin orang dong!!!

Supir angkot: Bacot lu!!! Ribut aja sini ama gua!!!

Pengemudi: Kurang ajar!!! Nantangin lu ya!!! (sambil buka pintu)

Dan mereka pun terlibat perkelahian antan pengguna jalan raya deengan disaksikan oleh penonton yang terdiri anak usia 1-15 tahun dan orang-orang dewasa lainnya....


Dulu orang Indonesia terkenal dengan keramah-tamahannya tapi sekarang kita tahu sendiri bagaimana watak orang Indonesia pada umumnya. Lihat saja di jalan raya, bagaimana orang Indonesia mengemudikan kendaraannya yang dapat dianalogikan mengemudikan emosi mereka untuk mencapai tujuannya. Lalu, bagaimana mereka menyikapi orang-orang yang akan meyeberang jalan raya dan kendaraan yang lebih kecil dari mereka, seperti motor atau sepeda yang akan menyeberang jalan? Terkadang sumpah serapah keluar dari mulut mereka yang mungkin tak memiliki dan tak tahu etika berkendara. Kesabaran bukan check list mereka, terutama kendaraan umum yang biasanya tak memperdulikan keselamatan orang lain dan akibatnya kecelakaan adalah masalah utama di jalan raya. Mereka pun tak peduli dengan polusi udara kita yang sangat tinggi. Malah pemerintah memanjakan pengguna kendaraan itu dengan memfasilitasi kendaraan bermotor mereka seperti, melebarkan jalan raya, membangun jalan raya, mempermudah pembuatan SIM, dll. Inilah indikator watak orang Indonesia saat ini, dapat tercermin melalui jalan raya. Dekadensi moral ternyata juga terjadi di jalan raya dan inilah fakta yang terjadi saat ini. Dulu orang Indonesia tak seperti itu, kehangatan dan rasa persaudaraan masih sangat kuat meskipun di kota-kota tempat mereka bermasyarakat. Dan mengapa orang Indonesia berubah drastis wataknya? Tak lain karena warisan penjajah kita seperti Belanda. Belanda telah menjajah kita selama kurang-lebih 350 tahun. Selama itu pula mereka 'membuang kotoran' alias menularkan kebiasaan orang eropa yang notabene tak sesuai dengan tatakrama bangsa Indonesia, seperti pergaulan bebas, minuman keras, emosi yang meledak-ledak, dll. Kemudian, Belanda menyerap etika serta tata krama bangsa Indonesia yang luhur melalui pergaulan di masyarakat. Lalu setelah kekalahan Belanda, mereka pulang dengan membawa 'oleh-oleh' tata krama bangsa Indonesia ke negaranya dan menerapkan apa yang mereka dapat dari Indonesia. Hasilnya orang Belanda adalah orang yang sangat bersahabat dan hangat dalam bergaul. Senyum dan sapa adalah daftar utama mereka sebelum sarapan. Sedangkan, kita bangsa Indonesia menyerap kebiasaan mereka dengan dalih sebagai budaya yang modern dan inilah hasilnya, dekadensi moral. seiringnya waktu berjalan semakin rendah pula moral bangsa Indonesia hingga saat ini. Entah di jalan raya maupun di tempat lain, kita sering bertindak seakan tidak punya moral. Lalu dimana budi luhur yang kita junjung dulu? Sadarlah untuk semua bahwa kita hidup untuk memperbaiki peradaban bangsa bukan untuk saling mengejek dan berpecah. Ada banyak pihak di luar sana yang tertawa saat kita saling pukul, saling meludah, saling menghina dan ingin kita agar terpecah belah lalu perang saudara...

created by Dik Dik F.

27 May 2009

Menikah saat kuliah (muda brur!)?

Sebuah polilog antara anak, bokapnya en nyokapnya....

Don Carlos (anaknya): Mi bentar lagi Dony (pangilan sayang dari Don) mau merrit niy ama si Angela....

Mami: Apa kamu bilang? Merit (nikah dalam bahasa gaul yang di selewengkan dari bahasa Inggris)? Nei, nei,nei (no,no,no) enak aja kamu bilang mau merit! Emang umur kamu baru berapa sih? Kuliah aje belom bener kamu, mau pake kawin segala!

Don Carlos: Ya mi, Dony kan ga mau pacaran lama-lama, dosa mi...

Mami: Kalo lw kawin (udah kesel) bini ama anaklw mau dikasih makan apa? Batu????

Don Carlos: Ya jangan mi ntar keselek lagi....

Bokapnya tiba-tiba dateng en langsung terlibat dalam percakapan antar generasi itu.....

Papi: Walaaaaaah, koq ribut-ribut ya, ada apa ini????

Mami: Dony, anak kita, katanya pengen kawin, lulus kuliah aja belum pake mau kawin segala dia....

Papi: Nikah apa kawin???????

Don Carlos: Nikah dulu pi baru kawin, gitu lho.... Iya pi aku mau nikah di usia muda....

Papi: Hah? kesambet setan apaan kamu??? Gak kuliah dulu, baru cari kerja yang bener trus punya rumah sendiri, punya mobil yang bagus, senengin papi-mami dulu, baru kawin...

Don Carlos: yah kelamaan pi, kalo gitu mah ampe umur 50 tahun juga belom tentu kesampean....

Mami en Papi: senengin kita dulu baru kawin!!!!!

Don Carlos: Haduh-haduh, mau ibadah aja susah (sambil ngelus dadanya)....

Menikah muda, bukan suatu yang memalukan kan? Tentu bukan jika bukan Married By Accident. Namun, di saat kita akan melaksanakan sunnah Rasulullah SAW dan perintah Allah itu, mengapa banyak yang bertanya-tanya? Oke taruhlah saya menikah di usia belia (mungkin 22 tahun nanti), lalu apa bedanya dengan pernikahan di atas usia 30 tahun? Cuma beda waktunya kok. Mengenai masalah kedewasaan, hal itu kan relatif. Ada remaja usia 20 tahun sudah bisa mandiri dan bersikap dewasa dan ada bapak-bapak 35 tahun lebih masih bersikap bergantung pada orang lain. Menikah muda adalah jalan untuk menghindari maksiat kok, kenapa harus dipertentangkan. Oke jika pihak laki-lakinya belum bisa mandiri, namun orangtua bisa membantu kan? Nah disitu peran sebagai orang tua, apakah mereka mendukung anaknya untuk mencari pahala atau mendukung anaknya tetap menimbun dosa ( pacaran). Yeah, di masa ini memang banyak sekali godaan, entah itu godaan nafsu dunia atau nafsu syahwat. Lihat saja remaja-remaja di kota besar Jakarta, banyak dari mereka menempuh jalan '"hitam" untuk memenuhi godaan itu (bagi yang tak kuat iman). Fakta pun menyebutkan bahwa hampir 50% remaja ibukota yang pernah melakukan free-sex. Lalu dimana peran orang tua terhadap anaknya untuk menjaga agar mereka tak tersesat? Salah satu jalannya adalah nikah muda. Memang reaksi yang beredar dalam masyarakat kita tentang nikah muda adalah reaksi yang negatif. Di kepala mereka kemungkinan besar suudzon yang ada. Masa kecil-kecil dikawinin? Bunting duluan ye? Warisannya banyak sih? Ya, sekitar itu lah yang ada. Sedang reaksi positif mungkin hanya dari orang seperti ulama ataupun orang yang mengerti agama. Apa salah ya jika nikah muda semata-mata untuk menjaga nafsu? Ya nggak juga, tergantung individunya, kalau mereka hanya ingin bersenang-senang sesaat ya salah, tapi jika mereka ingin mencari ridha Allah melalui ibadah ternikmat itu, ya dianjurkan. Saya sendiri sudah punya niat untuk menikah muda dan di saat kuliah ini, dan sudah saya utarakan keinginan itu kepada orangtua, lalu reaksi mereka mungkin setengah hati kali ya memberi jawabannya, silahkan kalau sudah kerja. Kerja? Boleh kalau sudah kerja, lalu kerja yang seperti apa? Kerja kantoran! Bagi orangtua sekarang kerja yang benar-benar kerja yang kerja kantoran. Jawaban itu mengindikasikan bahwa saya harus mapan dulu baru menikah....

created by Dik Dik...

06 May 2009

Dengarkan Curhatku

Dengarkan curhatku tentang Indonesia, bumi yang sangat subur dan semua orang pun tahu. Dulu kala, Indonesia dipuja-puja sebagai bangsa dan negara yang dipandang di kawasan Asia ini, namun kini..... Tidak!!! Indonesia berubah menjadi negara dimana keadilan tak memihak kepada rakyat. Tempat bercokolnya koruptor kelas teri hingga kelas kakap. Tempat dimana hukum menjadi barang dagangan yang sepertinya dijajakan di sebuah institusi hukum. Tempat dimana rakyat kecil selalu menangis, tertindas orang-orang elit yang merasa dirinya sebagai pemilik setiap jengkal tanah. Keadilan kini hanyalah sebuah angan-angan. Di saat para caleg atau capres berkoar-koar akan memihak dan mengutamakan kepentingan rakyat, di dalam hati mereka pun mendustai ucapannya sendiri. Para wakil rakyat yang telah terpilih, apa kontribusi mereka terhadap rakyat yang harus dibela? Kebanyakan dari mereka hanyalah pecundang yang bersembunyi di balik tumpukan uang. Dan bermain-main dengan uang rakyat yang diperas dari peluh seorang penarik becak. Fakta pun berbicara bahwa seperti itu keadaannya...

Ya Allah...
Apa yang dirasakan para pahlawan kita yang telah membebaskan Indonesia tercinta ini dari belenggu penjajah? Indonesia yang dulu dibela, kini telah terbelenggu oleh anak-cucunya sendiri...

17 December 2008

Main Drum cuy!!!

Pengalaman gw maen alat musik yang namanya drum pertama kali sejak gw kelas 1 SMP (telat banget ya???). Waktu hari minggu (masih inget gw) abis latian pencak silat (pengen kayak jet li gitu..), trus temen gw ngajakin gw ngeband.... wah kayaknya asik tuh!!! Yaudah gw ma temen gw berangkat kan ke studio deket lembah, depok. Pas masuk studio, gw bilang sih asik banget!!! temen gw main gitar sedang gw cuma duduk di drumset yang keliatan rumit banget, temen gw nyuruh gw mainin tuh drum!!!! Wah gw bingung banget!!! Ga tw caranya main drum, yaudah gw mainin tuh drum cuma dak duk dak duk aja, ga karuan, hahaha....
Akhirnya petemuan pertama gw dengan drum membuahkan cinta mati terhadap instrument yang satu ini, setelah gw pelajari gimana cara bermain drum dengan baik dan benar, gw nemuin kesenangan tersendiri....
Dan sekarang, gw udah bisa bermain drum dengan benar di band gw, sekarang gw udah tahu teknik main drum yang namanya rimshot, paradidle, heel up, heel down, dll. Tuh ilmu gw dapet dari temen-temen yang lebih jago. surfing di internet dan berguru pada ahlinya. Semuanya udah bisa gw praktekin tiap minggu sama band gw.
Dan gw berharap bisa menjadi drummer yang bener bener profesional. Amiiiiinnnn.......